6

Kini, Inggris tidak lagi menjadi bagian dari Uni Eropa. Warga kerajaan itu memilih hengkang dari Uni Eropa dalam referendum (pemungutan suara), Kamis lalu (23/6). Media banyak menyorot peristiwa itu sebagai kesalahan demokrasi Inggris karena ekonominya langsung terpuruk begitu hengkang. Faktanya, Referendum Uni Eropa itu jadi ajang taruhan non olahraga terbesar tahun ini.

Matthew Shaddick, kepala taruhan politik Ladbrokes berkata, “Di Referendum Uni Eropa ini, kami memprediksi ada 100 juta poundsterling yang dipertaruhkan. Angka itu jauh lebih besar dari peminat taruhan pemilu tahun lalu dan referendum kemerdekaan Skotlandia.”

Hal serupa juga terjadi dari penyelenggara taruhan lain. Pemaparan resmi penyelenggara taruhan William Hill sebutkan, perusahaannya terima uang taruhan sekitar 70 juta poundsterling. Sebanyak 20 juta berasal dari taruhan offline, sisanya dari taruhan online.

Bagi pegiat industri taruhan, angka itu setara dengan jumlah uang yang dipertaruhkan dalam pertandingan olahraga. “Paling tidak setara dengan Epsom Derby dan Cheltenham Gold Cup,” menurut pemberitaan The Guardian, Rabu (22/6).

Odds keluar dari Uni Eropa lebih besar

Analisa Ladbrokes sebutkan ada 90 persen kemungkinan referendum berakhir dengan hasil Inggris tetap di Uni Eropa. Sementara itu, hasil Brexit (British Exit) hanya tersisa kecil. Itu membuat Ladbrokes menawarkan keuntungan (odds) hingga lima kali lipat (odds 4-1) untuk mereka yang bertaruh Brexit.

“Faktanya, kami para penyelenggara taruhan sama sekali tidak mempublikasikan info apapun untuk memprediksi hasil Referendum Uni Eropa. Kami melakukan itu semua murni untuk mencari keuntungan (atau paling tidak menekan pengeluaran). Dan, itulah yang telah kami kerjakan,” kata Matthew Shaddick seperti dikutip The Guardian, Jumat (24/6).

Diikuti lebih banyak peserta taruhan baru

Referendum yang jadi sorotan utama media dan tawaran odds peserta taruhan seperti itu membuat banyak warga Inggris yang belum pernah taruhan mulai masuk ke dalam industri itu.

William Hill kepada Telegraph mengungkapkan ada seorang perempuan London yang baru pertama kali taruhan dan langsung memasang 100 ribu pundsterling bertaruh Inggris tetap di Uni Eropa. Sementara itu, ada warga London lain yang juga baru pertama kali taruhan memasang 10 ribu poundsterling bertaruh Brexit.

Protes besar

Karena analisa Ladbrokes salah memprediksi, mereka pun perlu menjawab sejumlah protes. Meski odds Brexit lebih besar, The Guardian mengindikasikan warga Inggris banyak yang memilih sebaliknya karena analisis Ladbrokes terkait Referendum Uni Eropa 2016.

Terkait hal ini, Matthew Shaddick kembali menegaskan bahwa tujuan Ladbrokes mempublikasikan informasinya adalah demi mencari keuntungan. “Kalau warga menanggap informasi dan odds taruhan sebagai alat memprediksi hasil politik, permasalahannya entah karena warga terbiasa salah kaprah atau sebuah kesalahan telak warga. Apapun alasannya, kami akan gunakan pengalaman ini untuk berbenah,” pungkas Shaddick.